Pasien Māori dan Pasifik keluhkan rasisme di sistem kesehatan

Pasien Māori dan Pasifik keluhkan rasisme di sistem kesehatan
Sebuah penelitian yang ditulis oleh beberapa akademisi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Auckland, mengungkap masalah rasisme dan penanganan yang tidak sesuai standar terhadap pasien orang Māori dan orang dari kawasan Pasifik lainnya - RNZI/ 123rf
Sebuah penelitian yang ditulis oleh beberapa akademisi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Auckland, mengungkap masalah rasisme dan penanganan yang tidak sesuai standar terhadap pasien orang Māori dan orang dari kawasan Pasifik lainnya – RNZI/ 123rf

Auckland, Jubi – Sebuah penelitian tentang penyakit rematik di Selandia Baru, mengungkap masalah rasisme dan penanganan yang tidak sesuai standar terhadap pasien orang Māori dan orang dari kawasan Pasifik lainnya.

Laporan tentang pengalaman orang Māori dan suku Pasifik lain dalam hal penanganan penyakit tersebut, ditulis beberapa akademisi di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Auckland.

Sebagian dari 113 orang yang diwawancarai selama studi itu, mengeluhkan beberapa permasalahan yang mereka alami secara langsung, saat berobat di bawah sistem kesehatan di Selandia Baru termasuk rasisme, dipanggil dengan julukan-julukan rasis seperti ‘coconut‘ (kelapa), dan diperlakukan dengan kasar oleh beberapa staf kesehatan profesional.

Peneliti utama dalam studi tersebut, dr. Anneka Anderson, mengatakan salah satu keluhan terbesar dari para peserta yang mereka wawancarai, terkait dengan masalah rasisme dan kurangnya pemahaman kultural dan penerapan konsep cultural safety.

“Anak perempuan orang Pasifik yang masih muda, diminta untuk menunjukkan dada mereka saat pemeriksaan kepada dokter lelaki, tanpa ada keluarga mereka atau dukungan lainnya di ruangan pemeriksaan, ini membuat mereka merasa sangat takut, sangat rentan,” katanya.

“Contoh lain yang kita pelajari selama studi ini adalah seorang Ibu asal Pasifik yang sudah menikah, ia dikunjungi di rumahnya oleh perawat laki-laki, saat keluarganya tidak berada di rumah, untuk memberikan suntikan di bokongnya.”

Penting sekali bagi penyedia layanan kesehatan dan staf kesehatan profesional, untuk membangun hubungan baik dengan pasien, sehingga masyarakat tidak takut mencari perawatan ketika mereka sakit, kata dr. Anderson.

Dari tahun 1996 hingga 2005, angka penderita penyakit rematik meningkat signifikan di kalangan anak-anak Māori dan Pasifika, tetapi menurun untuk anak-anak Selandia Baru berketurunan Eropa. Antara 2005 dan 2010, jumlah penderita penyakit ini meningkat dua kali lipat.

Hingga kini belum ada bukti bahwa orang Māori dan Pasifik lainnya memiliki kecenderungan yang lebih tinggi secara genetis terhadap penyakit rematik, kata dr. Anderson. (RNZI)

Share this post