Perubahan iklim, topik panas Kepulauan Pasifik bulan ini

Perubahan iklim, topik panas Kepulauan Pasifik bulan ini

TabloidJubi.com, Mei adalah bulan yang penuh dengan momen penting, dalam hal perubahan iklim di Pasifik dengan dilaksanakannya beberapa pertemuan penting dan konstruksi pusat perubahan iklim di kawasan kita.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan Kosi Latu, Direktur Jenderal Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme SPREP - Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme
Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan Kosi Latu, Direktur Jenderal Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme SPREP – Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme

Dialog tingkat tinggi tentang perubahan iklim dan keanekaragaman hayati antara para pemimpin Pasifik dengan Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Perancis, berlangsung pada tanggal 4 Mei yang lalu. Pertemuan itu diadakan di sela-sela kunjungan tiga hari Presiden Emmanuel Macron dan delegasinya ke Kaledonia Baru.

Pertemuan penting lainnya yang akan diadakan pada Mei ini, adalah pertemuan perdana satuan tugas untuk meningkatkan ketahanan Pasifik dalam menghadapi perubahan iklim, Pacific Resilience Partnership Taskforce, sebagai tanda dimulainya kerangka kerja Framework for Resilient Development in the Pacific.

Konferensi Perubahan Iklim Bonn sedang berlangsung dan terdiri dari berbagai pertemuan yang berbeda di bawah Kerangka Konvensi mengenai Perubahan Iklim PBB (UNFCCC). Dan, momen yang paling nyata, pada Jumat 11 Mei 2018 pembangunan gedung Pusat Perubahan Iklim Pasifik (Pacific Climate Change Centre; PCCC) akan dimulai dengan upacara peletakan batu pertama.

Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim digambarkan oleh Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Perancis, sebagai “perjanjian yang adil dan tidak dapat dibalikkan kembali dan menunjukkan solidaritas sesama negara penandatangannya”, selama dialog tingkat tinggi tentang perubahan iklim dan keanekaragaman hayati itu berlangsung.

Menteri Le Drian juga mengungkapkan bahwa badan pembangunan Prancis (AFD) dalam waktu dekat ini, akan resmi menjadi bank pembangunan yang penuh dan akan lebih aktif di kawasan Pasifik dan, Le Drian menegaskan, badan ini paralel seluruhnya dengan Perjanjian Paris dan penerapannya.

Direktur Jenderal sekretariat program lingkungan regional Pasifik, Secretariat of the Pacific Regional Environment Programme (SPREP), Kosi Latu, pun juga berpartisipasi dalam dialog tingkat tinggi itu dan juga bertemu dengan Presiden Macron selama kunjungannya ke Kaledonia Baru.

“Ini adalah tahun yang spesial untuk SPREP dan negara-negara anggotanya, karena kita merayakan ulang tahun kita yang ke-25 tahun dan kita akan memulai pembangunan Pusat Perubahan Iklim Pasifik; kita juga merayakan kemitraan kita dengan Prancis sebagai negara anggota SPREP dan mitra pendukung Pasifik yang kuat,” tutur Kosi Latu, Direktur Jenderal SPREP.

“SPREP didirikan berdasarkan prinsip-prinsip konservasi lingkungan yang berkelanjutan untuk kawasan regional Pasifik, dan setelah beroperasi selama bertahun-tahun, tantangan lingkungan yang kita hadapi pun berubah, terutama karena sekarang ada urgensi yang terus bertumbuh mengenai bagaimana kita dapat menghadapi perubahan iklim. Merupakan suatu kehormatan untuk dapat berdiskusi langsung dengan Presiden Macron dan Menteri Le Drian, dan kita lega mengetahui bahwa kita semua, negara-negara Kepulauan Pasifik anggota SPREP dan Prancis, memahami sepenuhnya peran penting dari Perjanjian Paris.”

Perancis adalah salah satu dari lima anggota metropolitan SPREP – disamping Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, serta Inggris – dan telah memberikan dukungan dan bimbingan tanpa henti kepada SPREP, agar SPREP dapat memenuhi kapasitasnya dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada negara-negara anggota Kepulauan Pasifiknya, dalam isu adaptasi perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Dialog tingkat tinggi antara delegasi Perancis dan para pemimpin Pasifik ini terjadi tepat pada waktu yang sangat penting bagi kawasan Pasifik, saat kita sedang mempersiapkan diri untuk memulai era baru dalam bidang adaptasi perubahan iklim dan pengembangan kapasitas di Pasifik.

Jumat pekan ini (11/05/2018), SPREP akan melaksanakan upacara peletakan batu pertama untuk memulai pembangunan gedung Pusat Perubahan Iklim Pasifik (PCCC), bermitra dengan badan kerja sama internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency; JICA) dan Pemerintah Samoa. Upacara itu juga menandakan peluncuran serangkaian kegiatan perayaan ulang tahun SPREP ke-25 yang akan diikuti oleh berbagai macam kegiatan.

Fasilitas ini nantinya akan menjadi pusat kolaborasi dan koordinasi regional Pasifik untuk mendukung pengembangan ketahanan iklim di kawasan ini. Pengembangan pusat ini dipandu oleh komite pengarah, yang dibentuk oleh berbagai pemangku kepentingan utama termasuk negara-negara Anggota, mitra, donor dan badan-badan yang merupakan anggota dari dewan antar-organisasi Pasifik, Council of Regional Organisations in the Pacific (CROP). Pusat ini akan menjadi tuan rumah bagi berbagai pakar perubahan iklim, peneliti, dan pejabat untuk keperluan penelitian dan pelatihan.

“Meskipun pusat PCCC ini terletak di markas SPREP, PCCC akan menjadi milik seluruh wilayah Kepulauan Pasifik secara keseluruhan. Dalam dialog kita dengan Prancis mengenai keanekaragaman hayati dan perubahan iklim, kita sudah mendengar langsung dari negara-negara anggota Kepulauan Pasifik kita tentang pentingnya mengambil tindakan sekarang untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Kita berharap pusat PCCC ini akan menjadi salah satu katalis dalam mewujudkan tindakan itu, selain itu karena pembangunan ini terjadi setelah kita bekerja selama 25 tahun, ini adalah bonus tambahan untuk menunjukkan pencapaian kami di Pasifik,”kata Latu.

SPREP sendiri dibentuk sebagai organisasi independen yang berlokasi di Samoa melalui penandatanganan Perjanjian SPREP pada Juni 1993. Hingga kini, hampir semua negara di kawasan Kepulauan Pasifik terdaftar sebagai anggota, termasuk di antaranya Samoa, Samoa Amerika, Kaledonia Baru, Fiji, Polinesia Prancis, Guam, Kiribati, Papua Nugini, Palau, Nieu, Tonga, Tuvalu, Kepulauan Solomon, Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara, serta Wallis dan Futuna.

Pembangunan dari pusat PCCC ini didanai oleh Pemerintah Jepang melalui bantuan kepada Pemerintah Samoa. Pusat ini akan dibangun sesuai dengan pedoman gedung hijau yang berarti setidaknya 50% dari listrik yang digunakan oleh fasilitas ini, harus berasal dari panel surya dengan harapan bahwa di kemudian hari PCCC akan berjalan dengan menggunakan 100% sumber energi terbarukan.

Upacara peletakan batu pertama di lokasi pembangunan Pusat PCCC dan acara peluncuran ulang tahun SPREP yang ke-25 tahun berlangsung pada hari Jumat 11 Mei 2018, dan menandakan kemajuan penting dalam ketahanan terhadap dampak perubahan iklim di kawasan Pasifik. (PINA)

Share this post