PM Samoa tekankan hubungan baik dengan Bainimarama

PM Samoa tekankan hubungan baik dengan Bainimarama
Saling menghormati, Perdana Menteri Samoa, Tuilaepa Sailele Malielegaoi dan rekannya dari Fiji, Perdana Menteri Voreqe Bainimarama. - Samoa Observer/ Mataafa Keni Lesa
Saling menghormati, Perdana Menteri Samoa, Tuilaepa Sailele Malielegaoi dan rekannya dari Fiji, Perdana Menteri Voreqe Bainimarama. – Samoa Observer/ Mataafa Keni Lesa

Apia, Jubi – Perdana Menteri Samoa, Tuilaepa Sailele Malielegaoi, telah mengesampingkan ketegangan di masa lalu antara dirinya dan rekan sesama Perdana Menteri dari Fiji, Voreqe Bainimarama.

“PM Bainimarama dan saya adalah dua orang politisi profesional dan visioner yang baik,” katanya.

“Kita berdua sering disalahpahami dan dikutip di luar konteks dengan sengaja, oleh jurnalis yang kurang gizi dan lapar untuk mencari uang cepat.”

PM Tuilaepa mengeluarkan komentar itu dalam wawancara yang dikeluarkan oleh Kantornya, setelah kunjungan kenegaraannya ke Fiji yang lalu dilanjutkan dengan perjalanannya ke Forum Kepulauan Pasifik (PIF), yang diadakan di Nauru minggu lalu.

Kunjungan itu mengejutkan banyak orang di kawasan Pasifik, mengingat masa lalu Tuilaepa dan Bainimarama yang bergolak di mana mereka saling menghina satu sama lain.

Namun Tuilaepa menegaskan bahwa semua itu hanya masa lalu, dan perselisihan itu sudah terselesaikan.

“Anda lihat, saya lebih memusatkan perhatian saya pada munculnya sistem politik baru, yang kelihatan radikal dan berpusat pada militer, dan kebutuhan mendesak untuk kembali ke normalitas,” jawabnya, ketika menanggapi pertanyaan tentang hal apa yang ia diskusikan dengan Bainimarama.

“PM Bainimarama membela keputusannya, karena dia harus mempraktikan sistem yang baru, dia melihat itu sebagai cara untuk mengalihkan Fiji ke tatanan pemerintahan yang baru, agar bisa meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh Fiji.”

“Fiji menghadapi tantangan-tantangan sosial dan ekonomi besar yang tidak kita alami di Samoa. Saya juga menyelaraskan pandangan saya dengan pandangan para pemimpin PIF. Sejak saat itu, Fiji telah menjadi demokrasi, dan seketika itu juga perbedaan pendapat antara kita hilang.”

Namun, kata Tuilaepa, bahkan demokrasi pun memiliki kekurangan.

“Tentu saja, demokrasi adalah sistem politik terbaik yang ada hingga hari, namun ia bukan yang paling ideal. Demokrasi pernah menghasilkan beberapa pemimpin terburuk, dalam sejarah modern kita seperti Hitler,” kata Tuilaepa.

“Sejak itu, Fiji telah mengambil tempatnya di PIF. Dan dalam pertemuan dengan Bainimarama, saya mengucapkan selamat kepadanya atas kepemimpinan di COP23, yang banyak berfokus pada perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan ketahanan di Pasifik. Tantangan-tantangan yang dihadapi banyak negara-negara kepulauan kita hari ini.” (Samoa Observer)

Share this post